English (United Kingdom)Arabic(السعودية)Indonesian (Indonesia)
Prof. Dr. Masykuri Abdillah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 19 Desember 2007 17:59

 

Prof. Dr. Masykuri Abdillah, lahir pada tanggal 22 Desember 1958 di Weleri, Kendal, Jawa Tengah. Setelah tamat Sekolah Dasar (SD), ia melanjutkan belajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pondok Pesantren Mranggen, Demak (selesai 1973). Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Madrasah Aliyah Tebuireng, Jombang (selesai 1976). Gelar Sarjana Muda ia peroleh dari Fakultas Syariah Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta (1981), dan gelar Sarjana Lengkap dari Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta (1985). Kemudian tahun 1995, ia berhasil meraih gelar doktor dalam bidang Islamic Studies pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Timur Tengah, Universitas Hamburg, Jerman dengan disertasi “Responses of Indonesian Muslim Intellectuals to The Concept of Democracy”, yang telah diterbitkan oleh Abera-Verlag, Hamburg, Jerman (1996).

 

Setelah kembali dari studi di Jerman ia mulai aktif mengajar di Fakultas Syari’ah, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan kemudian menjadi Ketua Jurusan Muamalah/Ekonomi Islam, Fakultas Syariah IAIN Jakarta (1997–1998), pada masa inilah IAIN Jakarta Jurusan Mu’amalah dikembangkan menjadi jurusan yang mempelajari dan mengembangkan ekonomi Islam, termasuk perbankan Syari’ah. Pada periode 2000–2003 ia mendapatkan amanat menjadi Pembantu Rektor IV (Bidang Kerjasama), dan pada 2003–2007 menjadi Pembantu Rektor I (Bidang Akademik) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

Saat ini ia adalah Guru Besar pada Fakultas Syari’ah dan Sekolah Pascasarjana, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Direktur Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) UIN Jakarta. Di samping tugas di kampus, sejak 2004 ia menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sejak 2007 menjadi Pengurus Badan Wakaf Indonesia (BWI), dan sejak 2008 menjadi Sekretaris Bidang Kehidupan Beragama Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Seiring dengan tugasnya sebagai akademisi dan pengurus ormas, ia sering menjadi pembicara dalam berbagai diskusi, seminar/conference dan workshop, baik di dalam maupun di luar negeri.

 

Sejak menjadi mahasiswa pada 1980-an, ia mulai menulis artikel di media massa, kemudian setelah menyelesaikan program S3, ia semakin banyak menulis artike di berbagai media massa (seperti Kompas, Republika, Seputar Indonesia, Media Indonesia, dsb), jurnal dan antologi serta diskusi dan seminar/conference. Disertasinya telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Demokrasi dalam Persimpangan Makna: Respon Intelektual Muslim Indonesia terhadap Konsep Demokrasi, (Yogyakarta, Tiara Wacana, 1999 dan 2004). Tulisan-tulisannya terutama berkisar tentang Islam dan politik, hukum, pendidikan serta issu-issu kontemporer yang terkait dengan Islam.

 

Diantara tulisan-tulisan itu terdapat dalam antologi Masykuri Abdillah, dkk, Fomalisasi Syari’at Islam di Indonesia: Sebuah Pergulatan yang Tak Pernah Tuntas (Jakarta: Renaisan, 2005). Artikel lain yang perlu disebutkan disini adalah Islam, Demokrasi, dan Masyarakat Madani (1999), Agama dan Hak-Hak Asasi Manusia (2000), Islam, Negara dan Civil Society: Prospek dan Tantangan Pasca Orde Baru (2001), Hukum Pidana Islam dalam Konteks Pembinaan Hukum Pidana Nasional (2002), Pesantren dalam Konteks Pendidikan Nasional dan Pengembangan Masyarakat (2003), Demokrasi yang Religius: Membincang Konsep Demokrasi di Indonesia (2004), Negara Ideal Menurut Islam dan Implementasinya pada Masa Kini (2005), Syari’ah dalam Konteks Globalisasi (2006), Kebebasan Berfikir dalam Konteks Masyarakat Indonesia (2007), dan Ways of Constitution Building in Muslim Countries (2008).

 

Diantara makalah-makalahnya yang disampaikan di forum internasional adalah: Revised Policy of the New Order Government toward Islam and its Impact on the Status of Islamic Law (Singapura, 1996), Islamic Legal Thought and Practice in Contemporary Indonesia (Taipe, 1997), Indonesian Intellectual Muslims in the 1999 Elections (Leiden, 1999), Cultural and Non-Media Massages of America: The Case of Indonesia (Washington, 2002), The Development of Islamic Law in Contemporary Indonesia (Canberra, 2004), Andunisia wa Bilâd al-Syâm (Damaskus, 2004), Discourses on the Implementation of Islamic Law in Contemporary Muslim State (Islamabad, 2005), Islam and Human Rights: Managing Diversity in the Case of Indonesia (Kuala Lumpur 2006), The Implementation of Shari’ah in a Democratic Muslim Country: Indonesian Experience (London, 2006) Ways of Constitution-Building in Muslim Countries: The Case of Indonesia (Berlin, 2007), dan The Dynamic of Interfaith Relations in the Plural Siciety: The Role of Religious Leaders in Indonesia, (Beirut, 2008).

 

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.